Katakan "TIDAK" Untuk Kekerasan


          Proses islamisasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW., sahabat, juga para pengikutnya mendapat hasil yang sangat luar biasa. Hal ini ditujukan dengan pesatnya perkembangan pemeluk islam di luar jazirah Arab seperti Irak, Suriah, Mesir juga Andalusia. Di abad pertama, perkembangan pemeluk islam mencapai kurang dari 6%. Menginjak abad ke-3 pemeluk islam di daerah ini menjadi 35%. Dan akhirnya, pada abad ke-4, pemeluk isalm di luar jazirah Arab ini mencapai 75. Betapa hebat beliau, dalam melaksanakan tugas-Nya tersebut. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sebab dari pesatnya perkembangan ini adalah adanya pembantaian orang non-muslim oleh orang muslim. Padahl, kenyataannya hal ini kurang tepat untuk dijadikan dasar pemikiran meningkatnya umat muslim.
            Mengapa hal ini kurang tepat untuk dijadikan dasar dari pemikiran peasatnya perkembangan islam? Lalu, apakah yang lebih tepat?
            Rasululloh tak akan mengambil jalan perang apabila masih ada jalan lain yang masih bisa diambil. Jalan perang adalah jalan terakhir yang diambil Rosul apabila tak ada jalan lain yabg diambil. Dan Rasul pun tak semena-mena mengambil keputusan untuk berperang. Karena, segala perbuatan, ucapan, dan ketetapan Rasululloh, bukan semena-mena nafsu beliau, melainkan wahyu dari Allah SWT. Sebagaimana difirmankan Allah SWT:
“Dan tiadalah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain wahyu yang diwahyukan”(An-Najm:3-4)
            Ternyata bukan hanya umat muslim saja yang mengakui bahwa pernyebaran islam dilakukan tanpa senjata. Gustaf Le Bone, penulis asal Belanda, mengatakan dalam bukunya “Hadorotul Arab” (Peradaban Arab) tentang penyebaran islam. “Sejarah telah menegaskan bahwa agama-agama tak mengharuskan penyebarannya dengan kekuatan, begitu pula Al-Qur’an, tak tersebar dengan pedang, melainkan semata-mata dengan cara da’wah. Dengan da’wah itu pula, beberapa bangsa Arab seperti Turki dan Mongol, justru menjadi bersatu dan bersaudara. Al-Quran menyebar pula ke India hingga jumlah pemeluk islam mencapai 50 juta jiwa. Padahal kita tahu, India bukanlah wilayah penaklukan dan kekuasaan Arab, tetapi sekedar jalan lewat dan penyebrangan saja”. Ia memaparkan hal ini, karena ia tahu bahwasanya dalam penyebaran agama islam, tak ada unsure kekerasan sedikit pun.
            Dasar pemikiran yang seperti inilah yang seharusnya digunakan oleh setiap muslim dunia. Dasar pemikiran yang membenarkan bahwa islam itu disebarkan dengan jalan da’wah, bukan oleh jalan peperangan.

0 komentar:

Indahnya Islam

            Islam dan Nabi Muhammad diturunkan ke bumi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya kaum muslim saja. Islam bertujuan untuk menciptakan keadilan & perdamaian di muka bumi. Sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi alam semesta” (QS.Al-Anbiya:107)
            Allah tak hanya membolehkan umatnya untuk gaul dan berkawan dengan kaum non-muslim, tetepi juga senang apabila kaum muslim berbuat baik & adil terhadap mereka.
            Perlu diketahui, kaum non-muslim dibagi menjadi 2 golongan:
1. Pemeluk Agama Watsaniyah (Berhala)
    Seperti kaum majusyi (penyembah berhala) dan kaum shabiah (penyembang bintang)
2. Pemeluk Agama Samawi atau Kitabiah
    Seperti kaum nasrani dan yahudi, Al-Qur’an menyebut mereka ahlul kitab
            Qordhowi memeparkan kedudukan kaum ahlul kitab dalam islam. Islam memperbolehkan memekan sembelihan mereka dan menganggap makanan mereka adalah halal dan baik. Islam juga memperbolehkan muslim mengawini wanita-wanita ahlul kitab.
“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-kitab itu halal bagi kamu, dan makananmu halal pula bagi merka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kamu”
(QS.Al-Maidah:3)
            Dalam hubungan kaum muslimin dan Negara Islam, maka kaum nonmuslim dibagi dua lagi, yaitu:
1. Al-Muharibuun
    Adalah orang-orang non-mulim yang memusuhi dan memerangi kaum muslim. Mereka boleh diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Seperti tak boleh berlaku curang, tak boleh berlaku sadis pada mayat mereka, dan tak boleh membunuh anak dan wanita.
2. Al-Masaalimun dan Mua’hidun
    Ini adalah kaum yang berdamai dan mengadakan perjanjian . Kaum ini dibagi 2 lagi, yaitu:
            a. Non muslim yang mengikat janji dengan batas waktu tertentu.
            b. Non muslim yang mengikat waktu untuk janji ataupun batas waktu tertentu. Kelompok ini disebut ahlu zimmah.
            Dalam ensiklopedi uhkum islam, dipaparkan berbagai hal tentang hak dan kewajiban ahli zimmi. Hak-hak kaum zimmi adalah:
1. Hak perlindungan
2. Jaminan hari tua & kemiskinan
3. Kebebasan agama
4. Kebebasan bekerja & berusaha
5. Jabatan & pemerintahan
Redaktur ISMA
Pondok Pesantren Al-Basyariyah

0 komentar:

Kiat--Kiat Nyaman Belajar Bahasa Inggris

Belajar bahasa Inggrisembutuhkan aksi. Kamu mungkin saja mengetahui semua tips tentang belajar, tetapi jika kamu tidak mulai melakukannya, kamu tidak akan memperoleh hasil apapun. Faktanya adalah bahwa, jika kamu ingin belajar berbicara bahasa Inggris dengan baik, kamu harus mengubah cara hidupmu. Berikut ini adalah beberapa contoh yang harus kamu kerjakan:
Bacalah sebuah buku dalam bahasa Inggris selama satu jam setiap hari, dengan menganalisa tata bahasa pada kalimat-kalimat dan mencari kata-kata yang sulit di dalam sebuah kamus bahasa Inggris.
Dengarlah sebuah audiobook atau rekaman lain dalam bahasa Inggris, seringlah berhenti, dan coba pahami apa yang sedang dikatakan, lalu coba ikuti cara pengucapan (pronunciation) si pembicara
Luangkan waktu di sore hari dengan mempraktekkan pengucapan bahasa Inggris terutama bunyi "r"
Tulislah sebuah pesan e-mail dalam bahasa Inggris secara hati-hati, dengan menggunakan sebuah kamus atau web search setiap 20 detik untuk memastikan bahwa setiap kata adalah benar, dan selama lima menit membuat sebuah kalimat
Pikirkanlah tentang sebuah kalimat bahasa Inggris yang telah kamu baca, pikirkanlah apakah ia bisa diucapkan dengan "a" dan bukannya "the" di dalam kalimat, dan cobalah temukan kalimat-kalimat yang sama di Web untuk mencari tahu jawabannya
Berjalanlah di tepi jalan dan cobalah menyusun kalimat sederhana dalam bahasa Inggris di pikiranmu (berbicaralah pada dirimu sendiri dalam bahasa Inggris tentang hal-hal yang kamu lihat di sekitarmu)

Manusia jenis apa yang akan melakukan hal-hal yang gila ini? Hanya ada satu jenis. Jenis manusia yang menikmati melakukannya. Jika kamu ingin belajar berbicara bahasa Inggris dengan baik, kamu harus menjadi orang seperti itu. Kamu tidak boleh membenci melakukan hal-hal ini. Pernahkah kamu mendengar seseorang yang menjadi sukses karena melakukan sesuatu yang dia benci?
Dalam belajar dan mengajar bahasa Inggris masalah yang sering dihadapi adalah semua pelajar bahasa Inggris ingin berbicara bahasa Inggris dengan lebih baik; sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak ingin meluangkan waktu mereka untuk belajar bahasa Inggris secara mandiri. (Mungkin inilah yang menyebabkan mereka mengikuti kursus-kursus dan berharap bahwa guru mereka akan menyuntikkan pengetahuan tersebut ke dalam otak mereka.)
Rendahnya motivasi berarti para pelajar tersebut pada dasarnya tidak menghabiskan waktu mereka untuk belajar bahasa Inggris secara mandiri, atau kalaupun mereka melakukannya, mereka tidak melakukan hal itu secara teratur. Sebagai contoh, seorang pelajar biasa mungkin belajar phrasal verbs bahasa Inggris selama 12 jam sebelum ujian bahasa Inggris. Namun demikian, ia tidak akan membaca sebuah buku dalam bahasa Inggris selama 30 menit setiap hari. Ia sama sekali tidak merasa bahwa belajar bahasa Inggris itu cukup menyenangkan, jadi ia akan melakukannya jika terpaksa. Masalahnya adalah sebuah usaha besar yang dilakukan satu kali saja tidak akan memberikan hasil apapun, sedangkan usaha kecil, yang dilakukan sebagai aktivitas hari-hari akan memberikan manfaat yang besar.
Jika kamu salah satu dari pelajar-pelajar itu dan merasa ingin mempraktekkan pengucapan bunyi "r" atau berbicara tentang kalimat bahasa Inggris setiap hari, kami memiliki berita buat kamu: Kamu harus membuat dirimu menyukai hal-hal ni. Dengan kata lain, kamu harus bekerja dengan motivasimu. Untungnya, ada teknik-teknik baik untuk menolongmu.

Pelajar Biasa vs. Pelajar Bermotivasi
Paula adalah seorang pelajar biasa bahasa Inggris dengan tingkat motivasi yang umumnya rendah. Pada saat-saat tertentu motivasinya tinggi - seperti hari sebelum ujian bahasa Inggrisnya atau pada saat dia tidak bisa berkomunikasi dengan seorang pelanggan asing yang meneleponnya di tempat kerja. Situasi seperti ini membuatnya berpikir "Aku harus melakukan sesuatu buat kemampuan bahasa Inggrisku!" Namun, hal seperti itu sangat jarang terjadi - kurang dari satu kali sebulan. Jadi walaupun jika dia belajar secara intensif, hasilnya jelek, karena dia lupa 90% hal-hal yang telah dipelajarinya dalam sebulan. Ini tidaklah mengejutkan: Sesuai dengan cara bekerjanya ingatan (memory) manusia maka kamu harus mengulang hal-hal yang telah kamu pelajari itu sepanjang waktu, kalau tidak kamu akan lupa semuanya.
 Nah sekarang lihatlah seorang pelajar bermotivasi: Judy. Judi membaca sebuah novel bahasa Inggris khusus untuk pelajar, dan setiap hari ia membacanya selama 30 menit. Dia membeli sebuah kamus dan menggunakannya untuk mencari kata-kata bahasa Inggris bila dia tidak memahami sebuah kalimat di dalam bukunya. Pada mulanya, sulit untuk belajar secara teratur: Sebelum ini, membaca buku dan menggunakan sebuah kamus bukanlah kebiasaannya. Begitu pula membaca sebuah kalimat bahasa Inggris adalah suatu tantangan tersendiri.
Tetapi sekarang, hanya setelah dua minggu, dia dapat membaca dengan jauh lebih cepat. Ketika sedang membaca, dia sering melihat kata-kata yang telah dipelajarinya selama dua minggu terakhir. Ketika dia mendapati sebuah kata yang telah dikenalinya sebelumnya, dia tidak perlu mencari artinya di kamus dan dia tahu bahwa dia telah membuat sebuah kemajuan yang baik. Judy merasa bahwa dia telah banyak belajar bahasa Inggris akhir-akhir ini, dan dia berhasrat untuk mempelajarinya lebih banyak lagi. Setiap hari, dia tidak sabar untuk membaca bukunya. Buku itu memberinya kesempatan untuk menggunakan apa yang telah dia pelajari dan belajar lebih banyak lagi. Karena dia belajar secara teratur, maka tidak banyak kata yang ia lupa. Di samping itu, kosa katanya terus berkembang. Judy berada pada lintasan yang benar. Segera dia akan dapat membaca surat kabar berbahasa Inggris dan bacaan-bacaan lain yang ditulis buat penutur asli (native speakers).
 
Orang Yang Menikmati Bahasa Inggris Akan Memiliki Ingatan Yang Lebih Baik
Menjadi Pembicara  Berbahasa Inggris
Bila kamu menikmati belajar bahasa Inggris, kamu akan meluangkan lebih banyak waktu untuknya, kamu akan melakukannya secara teratur. Motivasi yang tinggi akan memberikan manfaat tambahan lainnya. Kamu akan lebih muda mengingat kata-kata dan struktur tata bahasa yang baru. Alasannya adalah otakmu mudah mengingat hal-hal yang kamu suka. Jadi kesenangan mempelajari bahasa Inggris akan memberikan kepadamu manfaat ganda.

0 komentar:

Proses Pembentukan Hujan

Proses terbentuknya hujan masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, "bahan baku" hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk. Akhirnya, curahan hujan terlihat.

Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan.

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Artinya : "Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (QS Ar-Ruum : 48)

Kini, mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.

TAHAP KE-1: "Dialah Allah Yang mengirimkan angin..."

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut "perangkap air".

TAHAP KE-2: “...lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal..."

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.

TAHAP KE-3: "...lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya..."

Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.

0 komentar:

Khalifah Ustman Bin Affan (33-45 Hijriyah / 644-656 Masehi) [1]

1.Masa Kepemilihan Ustman Bin Affan
Kaligrafi Ustman Bin Affan
Menjelang wafat, Umar bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah.

Keenam orang itu berkumpul. Abdurrahman bin Auff memulai pembicaraan dengan mengatakan siapa dia antara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah.

Imar anak Yasir mengusulkan Ali. Begitu pula Mikdad. Sedangkan Abdullah anak Abu Sarah berkampanye keras buat Utsman. Abdullah dulu masuk Islam, lalu balik menjadi kafir kembali sehingga dijatuhi hukuman mati oleh Rasul. Atas jaminan Utsman hukuman tersebut tidak dilaksanakan. Abdullah dan Utsman adalah "saudara susu".

Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi Madinah sangat baik. Perilaku masyarakat pun bergeser. Mereka mulai enggan pada tokoh yang kesehariannya sangat sederhana dan tegas seperti Abu Bakar atau Umar. Ali mempunyai kepribadian yang serupa itu. Sedangkan Ustman adalah seorang yang sangat kaya dan pemurah.
Abdurrahman -yang juga sangat kaya-- pun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman adalah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan Ali, sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali kemudian menerima keputusan itu.
Maka Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yang tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H. Pengumuman dilakukan setelah selesai Shalat dimasjid Madinah. Ia lahir di Thalif pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda ketimbang Nabi Muhammad. Atas ajakan Abu Bakar, Ustman masuk Islam. Rasulullah sangat menyayangi Ustman sehingga ia dinikahkan dengan Ruqaya, putri Muhammad. Setelah Ruqayah meninggal, Muhammad menikahkan kembali Ustman dengan putri lainnya, Ummu Khulthum. Bahkan, ketika Ummu wafat karena sayangnya nabi pada Usman beliau berujar '' seandainya aku punya putri yang lain maka akan aku nikahkan lagi bersama Usman”. Demikian saking sayangnya Ummu Kultsum pada Ustman. Dari peristiwa inilah Ustman Bin Affan dijuluki ‘Dzun Nuroin’ (pemilik dua cahaya).

2.Kepemimpinan Ustman Bin Affan
Ilustrasi Usaha Untuk Kejayaan Islam
Di masanya kepemimpinannya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantin Opel pun sempat dikepung.
Ekspedisi damai ke Tiongkok pun dilakukan. Saad bin Abi Waqqas-lah yang bertemu dengan Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton.
Pada tahun pertama dari khilafah Usman bin Affan, yaitu tahun 24 Hijriah, negeri Rayyi berhasil ditaklukkan. Sebelumnya, negeri ini pernah ditaklukkan, tetapi kemudian dibatalkan. Pada tahun yang sama, berjangkit wabah demam berdarah yang menimpa banyak orang. Khalifah Usman bin Affan sendiri terkena sehingga beliau tidak dapat menunaikan ibadah haji. Pada tahun ini, Usman bin Affan mengangkat Sa'ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu'bah.
Di tahun 25 Hijriah, Usman bin Affan memecat Sa'ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah dan sebagai gantinya diangkatlah Walid bin Uqbah bin Abi Mu'ith (seorang shahabi dan saudara seibu dengan Usman bin Affan). Inilah sebab pertama dituduhnya Usman bin Affan melakukan nepotisme.
Pada tahun 26 Hijriah, Usman bin Affan melakukan perluasan Masjidil Haram dengan membeli sejumlah tempat dari para pemiliknya lalu disatukan dengan masjid. Pada tahun 17 Hijriah, Mu'awiyah melancarkan serangan ke Qubrus (Siprus) dengan membawa pasukannya menyeberangi lautan. Di antara pasukan ini terdapat Ubadah bin Shamit dan istrinya, Ummu Haram binti Milhan al-Ansharish. Dalam perjalanan, Ummu Haram jatuh dari kendaraannya kemudian syahid dan dikuburkan di sana. Nabi saw pernah memberi-tahukan kepada Ummu Haram tentang pasukan ini, seraya berdoa agar Ummu Haram menjadi salah seorang dari anggota pasukan ini. Pada tahun ini, Usman bin Affan menurunkan Amru bin Ash dari jabatan gubernur Mesir dan sebagai gantinya diangkatlah Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Dia kemudian menyerbu Afrika dan berhasil menaklukkannya dengan mudah. Di tahun ini pula, Andalusia berhasil ditaklukkan.
Tahun 29 Hijriah, negeri-negeri lain berhasil ditaklukkan. Pada tahun ini, Usman bin Affan memperluas masjid Madinah al- Munawarah dan membangunnya dengan batu-batu berukir. Ia membuat tiangnya dari batu dan atapnya dari kayu (tatal). Panjangnya 160 depa dan luasnya 150 depa.
Negeri-negeri Khurasan ditaklukkan pada tahun ke-30 Hijriah sehingga banyak terkumpul kharaj (infaq penghasilan) dan harta dari berbagai penjuru. Allah memberikan karunia yang melimpah dari semua negeri kepada kaum Muslimin.

Pada tahun 32 Hijriah, Abbas bin Abdul Muththalib, Abdurrahman bin Auf
, Abdullah bin Mas'ud, dan Abu Darda' wafat. Orang -orang yang pernah menjabat sebagai hakim negeri Syam sampai saat itu ialah Mu'awiyah, Abu Dzarr bin Jundab bin Junadah al-Ghiffari, dan Zaid bin Abdullah. Pada tahun ke-33 Hijriah, Abdullah bin Mas'ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah.

3.Konflik pada Masa Kepemimpina Ustman Bin
   Affan
   
Konflik Pada Masa Ustman Bin Affan
Seperti diketahui, Usman bin Affan mengangkat para kerabatnya dari bani Umaiyyah menduduki berbagai jabatan. Kebijakan ini mengakibatkan dipecatnya sejumlah sahabat dari berbagai jabatan mereka dan digantikan oleh orang yang diutamakan-nya dari kerabatnya. Kebijakan ini mengakibatkan rasa tidak senang banyak orang terhadap Usman bin Affan. Hal inilah yang dijadikan pemicu dan sandaran oleh orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba' dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah.
Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa penduduk Kufah umumnya melakukan pemberontakan dan konspirasi terhadap Sa'id ibnul Ash, pemimpin Kufah. Mereka kemudian mengirim utusan kepada Usman bin Affan guna menggugat kebijakannya dan alasan pemecatan sejumlah orang dari bani Umayyah. Dalam pertemuan ini, utusan tersebut berbicara kepada Usman bin Affan dengan bahasa yang kasar sekali sehingga membuat dadanya sesak. Beliau lalu memanggil semua pimpinan pasukan untuk dimintai pendapatnya.
Akhirnya, berkumpullah di hadapannya, Mu'awiyah bin Abu Sufyan (pemimpin negeri Syam), Amr ibnul Ash (pemimpin negeri Mesir), Abduliah bin Sa'ad bin Abi Sarh (pemimpin negeri Maghrib), Sa'id ibnul Ash (pemimpin negeri Kufah), dan Abdullah bin Amir (pemimpin negeri Bashrah). Kepada mereka, Usman bin Affan meminta pandangan mengenai peristiwa yang terjadi dan perpecahan yang muncul. Masing-masing dari mereka kemudian mengemukakan pendapat dan pandangannya. Setelah mendengar berbagai pandangan dan mendiskusikannya, akhirnya Usman bin Affan memutuskan untuk tidak melakukan penggantian para gubernur dan pembantunya. Kepada masing-masing mereka, Usman bin Affan memerintahkan agar menjinakkan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi harta dan mengirim mereka ke medan peperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Setelah peristiwa ini, di Mesir muncul satu kelompok dari anak-anak para sahabat. Mereka menggerakkan massa untuk menentang Usman bin Affan dan menggugat sebagian besar tindakannya. Kelompok ini melakukan tindakan tersebut tentu setelah Abdullah bin Saba' berhasil menyebarkan kerusakan dan fitnah di Mesir. Ia berhasil menghasut sekitar enam ratus orang untuk berangkat ke Madinah dengan berkedok melakukan ibadah umrah, namun sebenarnya mereka bertujuan menyebarkan fitnah dalam masyarakat Madinah. Tatkala mereka hampir memasuki Madinah, Usman bin Affan mengutus Ali bin Abu Thalib untuk menemui mereka dan berbicara kepada mereka. Ali bin Abu Thalib kemudian berangkat menemui mereka di Juhfah. Mereka ini mengagungkan Ali bin Abu Thalib dengan sangat berlebihan, karena Abdullah bin Saba' telah berhasil mempermainkan akal pikiran mereka dengan berbagai khurafat dan penyimpangan. Setelah Ali bin Abu Thalib membantah semua penyimpangan pemikiran yang sesat itu, mereka menyesali diri seraya berkata, "Orang inikah yang kalian jadikan sebagai sebab dan dalih untuk memerangi dan memprotes Khalifah (Usman bin Affan)?".  Mereka kemudian kembali dengan membawa kegagalan.
Ketika menghadap Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib melaporkan kepulangan mereka dan mengusulkan agar Usman bin Affan menyampaikan pidato kepada orang banyak, guna meminta maaf atas tindakannya mengutamakan sebagian kerabatnya dan bahwa ia telah bertobat dari tindakan tersebut.
Usulan ini diterima olehnya. dan Usman bin Affan kemudian berpidato di hadapan orang banyak pada hari Jum'at. Dalam pidato ini, di antaranya Usman bin Affan mengatakan, "Ya Allah, aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu. Ya Allah, aku adalah orang yang pertama bertobat dari apa yang telah aku lakukan."
Pernyataan ini diucapkannya sambil menangis sehingga membuat semua orang ikut menangis. Usman bin Affan kemudian menegaskan kembali, bahwa ia akan menghentikan kebijakan yang menyebabkan timbulnya protes tersebut. Ditegaskan-nya bahwa ia akan memecat Marwan dan kerabatnya.
Setelah penegasan tersebut, Marwan bin Hakam menemui Usman bin Affan. Dia menghamburkan kecaman dan protes kemudian berkata, "Andaikan ucapanmu itu engkau ucapkan pada waktu engkau masih sangat kuat, niscaya aku adalah orang yang pertama menerima dan mendukungnya, tetapi engkau mengucapkannya ketika banjir bah telah mencapai puncak gunung. Demi Allah, melakukan suatu kesalahan kemudian meminta ampunan dari-Nya adalah lebih baik daripada tobat karena takut kepada-Nya. Jika suka, engkau dapat melakukan tobat tanpa menyatakan kesalahan kami."
Marwan kemudian memberitahukan kepada Ustman bahwa di balik pintu ada segerombolan orang. Usman bin Affan menunjuk Marwan untuk berbicara kepada mereka sesukanya. Marwan lalu berbicara kepada mereka dengan suatu pembicaraan yang buruk, sehingga merusak apa yang selama ini diperbaiki oleh Usman bin Affan. Dalam pembicaraannya, Marwan berkata, "Kalian datang untuk merebut kerajaan dari tangan kami. Keluarlah kalian dari sisi kami. Demi Allah, jika kalian membangkang kepada kami, niscaya kalian akan menghadapi kesulitan dan tidak akan menyukai akibatnya."
Setelah mengetahui hal ini, Ali bin Abu Thalib segera datang menemui Usman bin Affan dan dengan nada marah, ia berkata, "Mengapa engkau merelakan Marwan, sementara dia tidak menghendaki kecuali memalingkan engkau dari agama dan pikiranmu! Demi Allah, Marwan adalah orang yang tidak layak dimintai pendapat tentang agama atau dirinya sekalipun. Demi Allah, aku melihat bahwa dia akan menghadirkan kamu kemudian tidak akan mengembalikan kamu lagi. Saya tidak akan kembali setelah ini karena teguran-ku kepadamu."
Setelah Ali bin Abu Thalib keluar, Na'ilah masuk menemui Usman bin Affan (ia telah mendengarkan apa yang diucapkan Ali bin Abu Thalib kepada Usman bin Affan) kemudian berkata, "Aku harus bicara atau diam!" Usman bin Affan menjawab, "Bicara lah!" Na'ilah berkata, "Aku telah mendengar ucapan Ali bin Abu Thalib bahwa dia tidak akan kembali lagi padamu, karena engkau telah menaati Marwan dalam segala apa yang dikehendakinya," Usman bin Affan berkata, "Berilah pendapatmu kepadaku." Na'ilah memberikan pendapatnya,"Bertaqwa lah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ikutilah sunnah kedua sahabatmu yang terdahulu (Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khattab), sebab jika engkau menaati Marwan, niscaya dia akan membunuhmu. Marwan adalah orang yang tidak memiliki harga di sisi Allah, apalagi rasa takut dan cinta. Utuslah seseorang menemui Ali bin Abu Thalib guna meminta pendapatnya, karena dia memiliki kekerabatan denganmu dan dia tidak layak ditentang."
Usman bin Affan kemudian mengutus seseorang kepada Ali bin Abu Thalib, tetapi Dia menolak datang. Ali bin Abu Thalib berkata, "Aku telah memberitahukan kepadanya bahwa aku tidak akan kembali lagi. Sikap ini merupakan permulaan krisis yang menyulut api fitnah dan memberikan peluang kepada para tukang fitnah, untuk memperbanyak kayu bakarnya dan mencapai tujuan-tujuan busuk yang mereka inginkan.
Usman bin Affan menjabat sebagai khalifah selama dua belas tahun. Tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan celah untuk mendendam-nya. Beliau bahkan lebih dicintai oleh orang-orang Quraisy umumnya ketimbang Umar bin Khattab, karena Umar bin Khattab bersikap keras terhadap mereka, sedangkan Usman bin Affan bersikap lemah lembut dan selalu menjalin hubungan dengan mereka.
Akan tetapi, masyarakat mulai berubah sikap terhadapnya, tatkala ia mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahan, sebagaimana telah kami sebutkan. Kebijakan ini dilakukan Usman bin Affan atas pertimbangan silaturrahim yang merupakan salah satu perintah Allah. Akan tetapi, kebijakan ini pada akhirnya menjadi sebab pembunuhannya.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku pernah berkata kepada Sa'id bin Musayyab, 'Ceritakanlah kepadaku tentang pembunuhan Usman! Bagaimana hal ini sampai terjadi!' Ibnul Musayyab berkata, 'Usman dibunuh secara aniaya. Pembunuhnya adalah kejam dan pengkhianatnya adalah orang yang memerlukan ampunan”. Ibnul Musayyab kemudian menceritakan kepada az-Zuhri tentang sebab pembunuhannya dan bagaimana hal itu dilakukan. Kami sebutkan di sini secara singkat.
Para penduduk Mesir datang mengadukan Ibnu Abi Sarh. Setelah pengaduan ini, Usman bin Affan menulis surat kepadanya yang berisikan nasihat dan peringatan terhadapnya. Akan tetapi, Abu Sarh tidak mau menerima peringatan Usman bin Affan, bahkan mengambil tindakan keras terhadap orang yang mengadukannya.
Selanjutnya, para tokoh sahabat, seperti Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Aisyah mengusulkan agar Usman bin Affan memecat Ibnu Abi Sarh dan menggantinya dengan orang lain. Usman bin Affan lalu berkata kepada mereka, "Pilihlah orang yang dapat menggantikannya." Mereka mengusulkan Muhammad bin Abu Bakar. Usman bin Affan kemudian menginstruksikan hal tersebut dan mengangkatnya secara resmi. Surat keputusan ini kemudian dibawa oleh sejumlah sahabat ke Mesir. Baru tiga hari perjalanan dari Madinah, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pemuda hitam berkendaraan unta yang berjalan mundur maju.
Para sahabat Rasulullah itu kemudian menghentikannya seraya berkata, "Mengapa kamu ini! Kamu terlihat seperti orang yang lari atau mencari sesuatu!" Ia menjawab, "Saya adalah pembantu Amirul Mukminin yang diutus untuk menemui Gubernur Mesir." Ketika ditanya, "Utusan siapa kamu ini!" Dengan gagap dan ragu-ragu, ia kadang -kadang menjawab, "Saya pembantu Amirul Mukminin," dan kadang- kadang pula ia menjawab,"Saya pembantu Marwan." Mereka kemudian mengeluarkan sebuah surat dari barang bawaannya. Di hadapan dan disaksikan oleh para sahabat dari Anshar dan Muhajirin tersebut, Muhammad bin Abu Bakar membuka surat tersebut yang ternyata berisi, "Jika Muhammad beserta si fulan dan si fulan datang kepadamu, bunuhlah mereka dan batalkan-lah suratnya. Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku menahan orang yang akan datang kepadaku mengadukan dirimu."
Akhirnya, para sahabat itu kembali ke Madinah dengan membawa surat tersebut. Mereka kemudian mengumpulkan para tokoh sahabat dan memberitahukan ihwal surat dan kisah utusan tersebut. 
Peristiwa ini membuat seluruh penduduk Madinah gempar dan benci terhadap Usman bin Affan. Setelah melihat hal ini, Ali bin Abu Thalib segera memanggil beberapa tokoh sahabat, antara lain Thalhah bin UbaidillahZubair bin AwwamSa'ad bin Abu Waqqash, dan Ammar. Bersama mereka, Ali bin Abu Thalib dengan membawa surat, pembantu, dan unta tersebut, masuk menemui Usman bin Affan. Ali bin Abu Thalib bertanya kepada Usman bin Affan, "Apakah pemuda ini pembantumu?" Usman bin Affan menjawab "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah unta ini untamu?" Usman bin Affan menjawab "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah kamu pernah menulis surat ini?" Usman bin Affan menjawab,"Tidak." Usman bin Affan kemudian bersumpah dengan nama Allah, "Aku tidak pernah menulis surat tersebut, tidak pernah memerintahkan penulisan surat, dan tidak mengetahui ihwal surat tersebut." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi, "Apakah stempel ini, stempel-mu?" Usman bin Affan menjawab, "Ya." Ali bin Abu Thalib bertanya lagi "Bagaimana pembantumu ini bisa keluar dengan menunggang untamu dan membawa surat yang distempel, dengan stempel-mu, sedangkan engkau tidak mengetahuinya?" Usman bin Affan kemudian bersumpah dengan nama Allah, "Aku tidak pernah menulis surat ini, tidak pernah memerintahkannya, dan tidak pernah pula mengutus pembantu ini ke Mesir."
Mereka kemudian memeriksa tulisan surat tersebut dan mengetahui bahwa surat itu ditulis oleh Marwan. Mereka lalu meminta kepada Usman bin Affan agar menyerahkan Marwan kepada mereka, tetapi Usman bin Affan tidak bersedia melakukannya, padahal Marwan saat itu berada di dalam rumahnya. Akhirnya, orang-orang keluar dari rumah Usman bin Affan dengan perasaan marah. Mereka mengetahui bahwa Usman bin Affan tidak berdusta dalam bersumpah, tetapi mereka marah karena dia tidak bersedia menyerahkan Marwan kepada mereka.
Setelah itu, tersiarlah berita tersebut di seluruh Kota Madinah, sehingga sebagian masyarakat mengepung rumah Usman bin Affan dan tidak memberikan air kepadanya. Setelah Usman bin Affan dan keluarganya merasakan kepayahan akibat terputusnya air, ia menemui mereka seraya berkata, "Adakah seseorang yang sudi memberi tahu Ali bin Abu Thalib agar memberi air kepada kami ?" Setelah mendengar berita ini, Ali bin Abu Thalib segera mengirim tiga qirbah air. Kiriman air ini pun sampai kepada Usman bin Affan melalui cara yang sulit sekali.
Pada saat itu, Ali bin Abu Thalib mendengar desas-desus tentang adanya orang yang ingin membunuh Usman bin Affan, lalu ia berkata "Yang kita inginkan darinya adalah Marwan, bukan pembunuhan Usman bin Affan." Ali bin Abu Thalib kemudian berkata kepada kedua anaknya, Hasan dan Husain, "Pergilah dengan membawa pedang kalian untuk menjaga pintu rumah Usman. Jangan biarkan seorang pun masuk kepadanya." Hal ini juga dilakukan oleh sejumlah sahabat Rasulullah saw demi menjaga Usman bin Affan. Ketika para pengacau menyerbu pintu rumah Usman bin Affan ingin masuk dan membunuhnya, mereka dihentikan oleh Hasan dan Husain serta sebagian sahabat.
Sejak itu, mereka mengepung rumah Usman bin Affan lebih ketat dan secara sembunyi-sembunyi berhasil masuk dari atap rumah. Mereka berhasil menebaskan pedang sehingga Khalifah Usman bin Affan terbunuh. Ketika mendengar berita ini, Ali bin Abu Thalib datang dengan wajah marah, seraya berkata kepada dua orang anaknya, "Bagaimana Amirul Mukminin bisa dibunuh, sedangkan kalian berdiri menjaga pintu?" Ali bin Abu Thalib  kemudian menampar Hasan dan memukul dada Husain, serta mengecam Muhammad bin Thalhah dan Abdullah bin Zubair. Demikianlah, pembunuhan Usman bin Affan merupakan pintu dari mata rantai fitnah yang terus membentang tanpa akhir.

0 komentar:

Al-Qur'an di Tengah Era Globalisasi

''Sesungguhnya Kamilah yang menjaga Al-Qur'an dan Kamilah yang benar-benar menjaganya'' (Al-Hijr : 9)


    Ini adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan janji Allah, dzat yang telah menjaga kemurnian Al-Qur'an, kitab suci umat islam. Fakta telah membuktikan bahwa sampai sekarang, zaman era globalisasi, Al-Quran tetap terjaga keasliannya dan juga keasliannya dari tangan-tangan jahil manusia.
     Al-Quran sering dicoba diselewengkan dan duibah oleh bangda Yahudi, kaum yang ingin menghancurkan Islam. Mereka memiliki seribu satu cara untuk menghancurkan Islam. Mereka mempelajari Al-Qur'an dengan tujuan untuk dapat merubah Al-Qur'an, bahkan mereka sampai belajar untuk menafsirkan Al-Qur'an. Dari sinilah, mereka mencoba untuk merubah tafsir juga arti dari Al-Qur'an tapi, ini semua hanya sia-sia. Al-Qur'an tak dapat dirubah, meskipundengan usaha yang sedemikian rupa.
     Semakin Yahudi mencoba untuk merubah Al-Qur'an, maka semakin tersebar luaskanlah Islam di seantero jagad raya. Hal ini dibuktikan dengan adanya buka ''Ensiklopedi Jenewa'' yang menjelasakn bahwa jumlah umat muslim dunia telah mencapai satu miliar tiga ratus ribu jiwa.
     Al-Qur'an turun dengan berbahasa Arab dan dengan rujukan penerjemah Al-Qur'anlah, Al-Qur'an diterjemhakan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dan sampai saat ini, Al-Qur'an telah diterjemahkan ke dalam seratus tiga puluh bahasa, bahkan lebih.
     Sejak dahulu kala, Al-Qur'an telah diwariskan secara turun-menurun, dari satu generasi ke generasi lainnya. Sanad itu terus bersambung sampai sanad tawatir isnadi dan tawatir ijmali bahkan pada sampai ahli quro. Sepuluh ahli quro ini, mempelajari Al-Qur'an dengan cara meniru bacaan-bacaan secara sempurna, mulai dari beberapa kata sampai beberapa ayat sebagaimana guru-guru mereka mengajarkannya. Sepuluh ahli quro tersebut adalah sebagai berikut:
Ibnu Katsir, Makkah
Nafi, Madinah
Abu Jafar, Madinah
Ashim, Kufah
Kasa'i, Kufah
Hamzah, Kufah
Ya'qub, Basyroh
Abu Amr bin A'la, Basyroh
Ibnu Amir, Syam
Kholaf, Bagdad
     Dari Tokyo sampai Jakarta, dan dari Gana sampai Virginia, Al-Qur'an banyak mendapat serangan dari bansa Yahudi, namun tetap kokoh bagaikan matahari yang tetep bersinar. Kekuatan dan kekuasaan Allah-lah yang menjadikan Al-Qur'an tetap dalam kemurnian.

Luthfi Fauzi
Redaktur ISMA

0 komentar: