Autobiografi
Kelahiranku
Jum’at, 6 Desember 2014. Hari bersejarah bagiku. Aku
terlahir didunia secara fitrah, dengan berat 3.5 kg oleh kedua 2 pasangan yang
telah menikah, itulah ibuku, Ita Rosita dan ayahku, Beny Samsibar. Sebelum aku
dilahirkan, kakak perempuanku, Nita Permatasari, dilahirkan pada tahun 1992.
Aku dan kakakku dilahirkan di salah satu rumah sakit di Bandung. Pada tahun
2000 pun, terlahir satu anak perempuan yang diberi nama Nadella Salsabila di
Cimareme, Kab. Padalarang. Ini adalah adik tercintaku. Jadi, aku adalah anak
kedua dari tiga bersaudara.
Aku dibesarkan
oleh keluarga besarku di rumah nenekku, Bandung. Karena ibuku sibuk saat itu,
jadi aku diurus oleh adik-adik ibuku. Ibuku adalah anak kedelapan dari 11
bersaudara. Tapi sayangnya, dua saudara terakhir telah wafat mendahui ibuku.
Begitu pula dengan ayahnku, belau telah bekerja di Bratachem sehingga tak
bersamaku setiap saat.
Setelah financial ayahku dan ibuku mencukupi untuk
membeli rumah, akhirnya kedua orang tuaku membeli sebuah rumah di Perum Laksana
Mekar Asri, Kec. Padalarang, Kab. Bandung. Inilah rumahku saat ini.
Pendidikan pertama
Taman kanak-kanak Abdul Malik, tak jauh dari rumahku
adalah tempat pertamaku menuntut ilmu. Tepatnya pada umur lima tahun, aku
disekolahkan disini oleh orang tuaku. Aku tak persis ingat tatkala masa itu,
tapi orang tuaku pernah mengatakn bahwa kala itu aku hanya bisa makan dan
makan. berbeada dengan siswa yang lain. Tapi, akhirnya aku lulus juga dari
taman kanak-kanak tersebut, setelah melewati kelas nol kecil dan nol besar.
Pendidikan kedua
Sekolah kedua, aku ditempatkan di SDN. Sindangsari, sama
seperti kakak perempuanku. Aku senang sekali pada saat itu. Saking senangnya di
hari pertama bersekolah, aku ingin cepat-cepat ke sekolah. Suatu ketika, aku
diperintah oleh ibuku untuk pergi bersamanya bukan bersama kakak perempuanku.
Tapi karena aku tatkala itu sangat ingin cepat-cepat ke sekolah, aku pergi
bersama kakak perempuanku. Mungkin karena aku tak menuruti orang tuaku,
ditengah jalan motoku dan kakak perempuanku tertabrak oleh motor dari arah
sebaliknya. Aku langsung dilarikan ke rumah sakit Dustira, Kota Cimahi, karena,
memang aku adalah yang paling berat lukanya dibandingkan dengan kakak
perempuanku dan pengendara tadi. Akhirnya, aku dirawat disana dengan kurun
waktu yang lama. Dari sini aku mengambil pelajaran bahwa kita harus mentaati
apa yang dikatakan oleh orang tua kita.
Setelah sembuh, aku mulai bersekolah lagi. Aku harus
belajar lebih giat lagi untuk dapat menerima pelajaran sekolah pada saat itu.
Tapi, disini aku tak jauh seperti di taman kanak-kanak dulu. Aku suka makan.
Tapi, segala puji hanya bagi Allah aku bisa naik kelas dengan nilai yang
memuaskan.
Naik ke kelas 2, saya ingin sekali mengikuti lomba cerdas
cermat. Karena pada saat itu aku termotivasi oleh kakak kelasku yang pernah
mengikuti lomba tersebut. Jadi aku mulai
bersemangat belajar disini. Meskipun di rumah tidak belajar, karena itu waktuku
untuk bermain dengan teman-teman. Aku selalu bersemangat ke sekolah.
Dan akhirnya, setelah beberapa lama, aku dan beberapa
temanku dipilih oleh sekolah untuk mengikuti cerdas cermat. Setelah melalui
tahap demi tahap, akhirnya kami lolos sebagai juara 4 tingkat provinsi. Suatu
kebanggan bagiku tatkala namaku dipanggil oleh kepala sekolah tatkala upacara
rutinan hari senin berlangsung.
Tapi, prestasiku tak selalu tetap dan terus-menerus.
Sampai kelas 4, mulai dari kelas 3, aku tak mendapat prestasi apa pun. Aku
terkesan banyak bermain-main ketika disini. Aku juga tak terlalu memikirkan
ini. Karena, memang aku masih kecil saat itu. Tapi, memasuki kelas lima, aku
dimasukan ke suatu lembaga pendidikan nonformal bahasa inggris di jalan Nanjung
Batujajar. Mau tidak mau, akhirnya aku belajar di jam disana. Yang dahulu waktu
itu aku pakai untuk bermain, tapi kini berubah menjadi waktu belajar tambahan.
Aku merasa bosan dan malas sekali, tapi aku harus tetap mentaati kedua orang
tuaku. Jadi aku tetap belajar disana.
Waktu terus berjalan, aku pun menginjak kelas enam.
Awalnya, aku memiliki keinginan yang besar untuk melanjutkan masa belajarku di
junior high school favorit di kota Bandung ataupun Cimahi. Aku pun semangat
dalam belajar, ingin mendapat nilai yang mencukupi untuk masuk ke sekolah
favorit. Aku ikut bimble gratis yang diselenggarakan oleh Ganesha Opertion
bersama teman-teman lainku. Dan hasilnya, aku mendapat nilai akhir 25, 25.
Nilai yang cukup memuaskan bagiku. Dengan nilai ini, aku bisa masuk sekolah
favorit di Kota Cimahi.
Tapi, takdir berkata lain. Aku ditawari oleh saudaraku
untuk masuk pesantren. Ada tiga pilihan pesantren, Pondok Pesantren Sunur
Bandung di Cililin, Pondok Pesantren di Kuningan dan yang terakhir adalah
Pondok Pesantren Al Basyariyah. Sambil berfikir, aku dan orang tuaku pun survey
ke semua pesantren yang ditawarkan oleh saudaraku tadi, Ms. Imas Rachmawati. Setelah aku berkeliling
ke semua pesantren, aku pun akhirnya memilih pondok yang berada di Bandung,
yaitu Pondok Pesantren Al Basyariyah.
Aku dan Pondok Pesantrenku
Minggu, 13 Juni tanggal aku masuk ke Pondok Pesantren Al
Basyariyah. Awal aku masuk ke pondok ini, aku melihat wisudawan dan wisudawati
dari angkatan 20. Aku kagum melihat mereka, terlebih tatkala melihat perwakilan
wisudawan yang memberikan sambutan dengan berbahasa Arab.
Aku pun masuk ke kamar no 86. Disini adalah aku dan
keluargaku membereskan lemari dan alat-alat yang diperlukan. Rasa sedih yang
aku rasakan, ingin sekali aku mengeluarkan air mata kesedihan. Tapi, tidak. Aku
tak ingin membuat khawatir semua keluargaku. Aku ingin mereka semua percaya
bahwa aku bisa lulus di sini dan menjadi wisudawan tujuh tahun kedepan. Aku pun
termotivasi oleh pengasuh kamarku, Iman Taufik Lubis kelas 6 TMI dan Wildan
Fauzi kelas 2 IPA. Mereka telah belajar di pondok ini. Dan aku harus bisa
menjadi seperti mereka.
Waktu demi waktu pun berjalan. Aku harus bisa beradaptasi
di sini. Akhirnya, banyak teman yang aku kenal. Ini menambah rasa betahku di
pondok ini.
Banyak sekali ujian yang aku terima disini. Ketika
semester 2 kelas 1 TMI, aku masuk rumah sakit Hasan Sadikin karena aku
terjangkit penyakit DBD. Orang tuaklu sangat khawatir dengan kondisiku yang
kurang terkontrol oleh orang tuaku. Aku dirawat selama 1 bulan disini. Karena
kekhawatiran orang tuaku, aku ditawari keluar dan pindah ke sekolah umum ataupun
ke pesantren yang lebih baik lagi. Tapi, aku menjawab pertanyaan atau tawaran
orang tuaku tersebut.
Setelah sembuh, aku pun mulai pergi dan berjuang lagi di
pondok. Sudah jelas disini, aku tertinggal pelajaran. Akhirnya, nilaiku pun
turun. Tapi segala puji hanya bagi Allah, aku naik kelas dan duduk di kelas 2 C
TMI. Di kelas, ini aku bertemu dengan teman-teman yang lebih pintar dariku dan
mereka pun sekaligus menjadi saingan bagiku. Tapi, aku rasa ini adalah suatu
hal yang seru. Dan di kelas ini, aku
memiliki cita dan harapan untuk menjadi santri pilihan yang akan diutus ke
Arjasari pada kelas 3 TMI mendatang. Maka dengan tujuan jangka pendek ini, aku
bertekad untuk menjadi santri yang baik dan mentaati disiplin pondok dan juga
menjadi santri berprestasi.
Di kelas 2 ini, aku mendapat beberapa prestasi, yaitu
menjadi juara 2 pidato berbahasa Arab di acara Speech Contest yang
diselinggarakan oleh Bagian Bahasa OSPA angkatan 23.
Singkat cerita, aku akhirnya terpilih menjadi salah satu
santri yang akan menjadi pengurus organisasi di kampus 3, Arjasari. Aku juga
sempat sedih tatkala ini. Karena, dipisahkan dari teman-teman satu angkatanku
yang telah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Tapi, aku harus tetap
menjalankan tugas.
Kampus 3 Arjasari, sebuah desa jauh diatas gunung. Jauh
dari keramaian. Di tahun ke 3, aku belajar disini. Dipercaya oleh teman-teman
dan ketua OSPA menjadi bagian bahasa tahun ajaran 2011/2012. Banyak pengalaman
yang aku rasakan disini. Berlatih mengurus organisasi meskipun belum mampu. Dan
disini pula, aku mulai aktif dalam pramuka. Mengikuti lomba yang diadakan oleh
SMK 11, Bandung. Aku disini ikut barisan baris berbaris. Dan hasilnya, kami
mendapatkan juara ketiga lomba LKBB di LMG 2011. Sebuah kebanggaan bagiku. Bisa
menyumbang satu piala untuk sekolah tercinta. Satu lagi prestasi yang di
dapatkan regu An-Nahl 27, yaitu juara kedua dan juara harapan kedua di SMKN 1
Katapang. Jadi, kami telah berhasil menyumbangkan prestasi sebanyak 3 piala.
Selain belajar organisasi, aku juga tetap harus fokus
belajar untuk mendapat nilai yang baik di ujian Negara nanti. Aku sering
berkonsultasi dengan peserta masa bakti angkatan 23, yaitu Wildan Fauzi,
Lisaini Azizah dan Arini Maharani. Mereka dulu mengambil jurusan IPA di pondok,
maka dari tiu aku selalu menanyakan pelajaran yang sulit pada mereka.
Setelah ujian Negara selesai, aku pun masih dihadapkan
pada ujian jurusan. Niatku kala itu adalah jurusan IPA. Karena, aku memiliki
cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Maka aku harus fokus pada 3 pelajaran,
yaitu matematika, sains dan bahasa inggris. Aku harus memiliki nilai yang besar
di 3 pelajaran tersebut.
Setelah 3 bulan masa penjurusan, aku akhirnya masuk ke
jurusan IPA. Tentunya dengan nilai yang memuaskan. Sesuai dengan apa yang aku
rencanakan. Aku pun belajar di marhalah 1 aliyah dengan program jurusan IPA.
Disini, aku belajar sungguh-sungguh karena targetku sekarang adalah menyusul
ranking saingan terberatku semenjak dari kelas 1. Setelah belajar selama satu
semester, akhirnya aku bisa berada di depannya, juara 1 kelas 1 IPA putra.
Di semester 2, aku dipercaya oleh teman-temanku dan juga
guru-guru untuk menjadi P3OSPA. Organisasi ini bertugas untuk mempersiapkan
segala sesuatu yang dibutuhkan untuk regenerasi OSPA selama satu bulan lamanya.
Rasa lelah karena telah mengorbankan otak dan tenaga kami rasakan. Belum lagi
kami masih dituntut untuk sekolah dan tidak boleh meninggalkan kegiatan belajar
mengajar. Tapi segala puji hanya bagi
Allah, kami bisa melewati ini semua dengan lancar ditengah kesibukan masalah
pribadi kami masing-masing. Dan kami akhirnya melantik 3 orang ketua OSPA dan 2
orang ketua OGDA berserta seluruh pengurus bagian OSPA dan andalan OGDA.
Naik ke kelas 2 IPA, aku dipercaya kembali oleh majlis
guru dan pimpinan pesantren untuk menjadi pengurus kamar santri baru. Aku
ditempatkan di kamar 86 bersama teman saya dengan secara maksimal. Kami ingin
agar seluruh anggota kamar kami betah di pondok ini dan menjadi santri yang
berperilaku baik juga berprestasi.
Untuk mencapai semua itu kami berfikir keras, bekerja
keras, berdoa keras dan bersabar keras. Dan ada 2 anggota yang menurutku
menjadi santri berprestasi, yaitu M. Ervan Nugraha yang telah meraih juara 1
lomba pidato se-Bandung Raya dan Hariz Fadhil Abdurrohman yang menjadi Tim Inti
Pramuka Al Basyariyah. Tapi sayangnya, mereka telah keluar dan tidak menamatkan
belajarnya di pondok ini.
Setelah tujuh bulan mengurus santri baru, aku dipercaya
untuk mengurus santri kelas 2 yang berada di gedung Safinah. Dan aku mengurus
di kamar 61. Aku dipercaya oleh Ust. Dindin Komarudin sebagai penanggung jawab
kelas 2, yang mana mereka terkenal dengan kenakalan mereka dan sikap tidak
sopan mereka. Setelah 3 bulan berlalu, aku berusaha mengubah gedung Safinah
yang bermula dari berantakan menjadi rapih dan dari tidak sopan menjadi
berprilaku baik.
Di kelas akhir, kelas 3 IPA, aku dipercaya kembali untuk
menduduki jabatan ketua bagian bahasa OSPA masa bakti 2013/2014. Tugasku adalah
untuk berusaha menggerakan santri agar seluruhnya menggunakan bahasa resmi,
yaitu bahasa Arab dan Inggris. Selain itu, aku dipercaya oleh anggota redaktur
ISMA untuk menjadi pimpinan redaksi ISMA dan juga menjadi andalan bagian
latihan organisasi pramuka. Semuanya aku jalani dengan cinta dan keikhlasan.
Sebab, semua yang dilakukan dengan rasa cinta dan ikhlas maka semuanya akan
terasa mudah.
| Foto bersama kyai Hizbut Tahrir, ketika bertugas meliput. |
Semenjak aku menjabat menjadi bagian bahasa, aku berusaha
untuk menggerakan santri dalam berbicara menggunakan bahasa resmi meskipun kini
santri belum bisa untuk melaksanakannya. Dalam jabatanku sebagai pimpinan
redaksi aku dan rekan kerjaku lainnya selalu berusaha untuk menjadikan buletin
ISMA lebih menarik dan berkualitas. Dan sampai kini, kami telah menerbitkan 8
buletin yang dibagikan pada seluruh santri untuk media syiar pondok. Kami juga
telah melantik redaktur ISMA baru sebagai regenerasi jikalau kami telah keluar
dari pondok. Dan selama aku menjabat menjadi bagian latihan organisasi pramuka,
kami membuat acara camping BANTARA, dan melantik adika penggalang menjadi
penggalang ramu.
Sampai aku menulis karya tulis ini, aku masih belajar di
pondok pesantren al basyariyah di kelas 3 IPA. Dan kini aku sedang disibukkan
dengan persiapan Ujian Negara, Ujian niha’I, OSPA dan OGDA, juga Gebyar Seni.
Semuanya harus aku hadapi dengan rasa cinta dan ikhlas agar semuanya tak terasa
berat.


0 komentar:
Posting Komentar