Khalifah Ustman Bin Affan (33-45 Hijriyah / 644-656 Masehi) [2]
4. Kejayaan Kekhalifahan Ustman Bin Affan
Masa kekhalifannya merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya haji berkali-kali.
Masa kekhalifannya merupakan masa yang paling makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya haji berkali-kali.
Beliau
adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram
(Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam
yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide
polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untuk mahkamah
dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah
sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotob biasanya mengadili suatu
perkara di masjid.
Pada
masanya, khutbah Idul fitri dan adha didahulukan sebelum sholat. Begitu
juga adzhan pertama pada sholat Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam
pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk
kepentingan pertanian.
![]() |
| Qur'an Ustmani |
Ia
juga menyelesaikan pengumpulan naskah Quran yang telah dirintis oleh
kedua pendahulunya, yaitu Abu Bakan dan Umar. Ia menunjuk empat pencatat
Quran, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan
Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas
didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing
dikirim ke Mekah, Damaskus, San'a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.
Prestasi yang diperoleh selama beliau menjadi Khalifah antara lain :
- Menaklukan Syiria, kemudian mengakat Mu’awiyah sebagai Gubernurnya.
- Menaklukan Afrika Utara, dan mengakat Amr bin Ash sebagai Gubernur disana.
- Menaklukan daerah Arjan dan Persia.
- Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran.
- Memperluas Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah.
- Membakukan dan meresmikan mushaf yang disebut Mushaf Utsamani, yaitu kitab suci Al-qur’an yang dipakai oleh seluruh umat islam seluruh dunia sekarang ini. Khalifah Ustman membuat lima salinan dari Alquran ini dan menyebarkannya ke berbagai wilayah Islam.
- Setiap hari jum’at beliau memerdekakan seorang budak (bila ada)
5.Suri Tauladan Ustman Bin Affan
Pertama,
di antara keutamaan dan keistimewaan yang dapat dicatat pada periode
pemerintahan Usman bin Affan ialah banyaknya penaklukan dan perluasan.
Pada periode ini, seluruh Khurasan berhasil ditaklukkan. Demikian pula
Afrika sampai Andalusia. Di samping itu, tercatat pula sejumlah prestasi
mulia dan agung yang pernah dilakukan Usman bin Affan, seperti
menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan al-Qur'an yang tepercaya
setelah berkembangnya berbagai bacaan yang di khawatirkan dapat
membingungkan orang. Juga seperti prestasinya memperluas Masjid Nabawi
di Madinah al-Munawwarah.
![]() |
| Khulafaur Rosidin adalah Pemimpin Penerus Nabi |
Tidaklah
merusak kemuliaan Usman bin Affan jika dalam berbagai penaklukannya ia
mempergunakan Abdullah bin Sa'id bin Abi Sarh dan orang-orang
semisalnya, karena Islam menghapuskan semua dosa sebelumnya. Barangkali
Ibnu Sarh dengan amal-amalnya yang mulia ini telah menghapuskan segala
yang pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan seperti diketahui, ia tetap
di jalan lurus setelah itu dan termasuk orang yang tetap baik agamanya.
Kedua,
betapapun keras kritik yang dilontarkan kepada Usman bin Affan karena
kebijakannya dalam memilih para gubemur dan pembantunya dari kaum
kerabatnya (bani Umayyah), kita harus menyadari bahwa kebijakan tersebut
merupakan ijtihad pribadinya. Usman bin Affan bahkan telah
mempertahankan pendapat tersebut di hadapan sejumlah besar para sahabat.
Bagaimanapun sikap kita terhadap pendapat dan pembelaan tersebut,
sewaktu mengkritik, kita tidak boleh melanggar adab dalam melontarkan
analisis atau pendapat. Juga kesalahan yang dilakukannya tersebut -jika
hal itu kita anggap sebagai suatu kesalahan- jangan sampai melupakan
kita pada kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah saw, keutamaannya
sebagai generasi pertama dalam Islam, dan sabda Rasulullah saw kepadanya
pada Perang Tabuk,"Tidaklah akan membahayakan Usman apa yang
dilakukannya setelah hari ini."
Hendaknya
kita pun menyadari bahwa pembicaraan dan sanggahan para sahabat,
terhadap kebijakannya saat itu, tidak sama dengan kritik dan gugatan
yang kita lakukan sekarang terhadap masalah yang sama.
Sanggahan
para sahabat terhadapnya, pada saat itu, merupakan pencegahan bagi
suatu permasalahan yang ada dan mungkin dapat diubah atau diperbaiki.
Segala pembicaraan, di saat itu, sekalipun bermotivasikan kritik dan
menyalahkan, merupakan tindakan positif dan bermanfaat. Sementara itu,
pembicaraan kita pada hari ini, setelah masalah tersebut menjadi suatu
peristiwa sejarah, hanyalah merupakan tindakan kurang ajar terhadap para
sahabat yang telah diberikan pujian oleh Rasulullah saw. Beliau
melarang kita bersikap tidak sopan kepada mereka, terutama Khilafah
Rasyidah.
Bagi
siapa saja yang menginginkan amanah ilmiah dalam mengemukakan peristiwa
ini, cukuplah dengan berpegang teguh kepada penjelasan yang dikemukakan
oleh para penulis dan ahli sejarah tepercaya, seperti Thabari, Ibnu
Katsir, dan Ibnul Atsir.
Ketiga,
bersamaan dengan munculnya benih-benih fitnah pada akhir-akhir
pemerintahan Usman bin Affan, muncul pula nama Abdullah bin Saba' di
pentas sejarah. Peranan Ibnu Saba' sangat menonjol dalam mengobarkan api
fitnah ini. Abdullah bin Saba' adalah seorang Yahudi berasal dari
Yaman. Ia datang ke Mesir pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Ia
menghasut orang untuk membangkang pada Usman bin Affan dengan dalih
mencintai Ali bin Abu Thalib dan keluarga (ahlul bait) Nabi saw. Di
antaranya, ia mengatakan kepada orang-orang, "Tidakkah Muhammad saw
lebih baik dari Isa as di sisi Allah?”. Jika
demikian halnya, Muhammad saw lebih berhak kembali kepada manusia
daripada Isa as. Akan tetapi, Muhammad saw akan kembali kepada mereka
dalam diri anak pamannya, Ali bin Abu Thalib, yang merupakan orang
terdekat kepadanya."
Dengan
khurafat ini, Abdullah bin Saba' berhasil menipu masyarakat Mesir,
padahal sebelumnya ia gagal mendapatkan pengikut di Yaman. Orang-orang
yang tertipu oleh perkataannya inilah yang berangkat ke Madinah guna
memberontak kepada Usman bin Affan. Akan tetapi, mereka berhasil dihalau
oleh Ali bin Abu Thalib, sebagaimana telah Kita ketahui.
Dari
sini, kita mengetahui bahwa kelahiran perpecahan umat Islam menjadi dua
kubu: Sunni dan Syi'ah, dimulai pada periode ini. Perpecahan ini
sepenuhnya merupakan buah tangan Abdullah bin Saba'. Belum lagi
penyiksaan dan kekejaman yang dialami oleh Ahlul Bait atau Syi'ah di
tangan pemerintahan Umawiyah dan lainnya. Yang penting, bagaimanapun
kedua peristiwa ini telah masuk ke dalam sejarah, tetapi kita tidak
boleh melupakan realitas lainnya.
Keempat,
sekali lagi, kita harus mendapatkan kejelasan tentang hakikat hubungan
yang berlangsung antara Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib selama
periode khilafah yang ketiga ini, juga hakikat sikap yang diambil Ali
bin Abu Thalib terhadap Usman bin Affan. Seperti telah kita ketahui
bahwa Ali bin Abu Thalib segera membaiat Usman bin Affan sebagai
khalifah, bahkan menurut kebanyakan ahli sejarah, sebagaimana dikatakan
oleh Ibnu Katsir, bahwa Ali bin Abu Thalib adalah orang yang pertama
membaiat Usman bin Affan. Kemudian kita ketahui bagaimana Ali bin Abu
Thalib mengatakan kepada Usman bin Affan, ketika ia mendengar
segerombolan orang yang dikerahkan oleh Abdullah bin Saba' ke Madinah
untuk menggerakkan orang menentangnya, "Aku bereskan kejahatan mereka!"
Ali bin Abu Thalib kemudian berangkat dan menemui mereka di Juhfah
sampai berhasil menghalau mereka kembali ke Mesir seraya
mengatakan,"Inikah orang yang kalian jadikan sebagai sebab dan dalih
untuk memerangi dan memprotes khalifah (Usman bin Affan)?" Kita telah
mengetahui bagaimana Ali bin Abu Thalib dengan penuh keikhlasan,
kecintaan, dan kemauan yang jujur memberikan nasihat kepadanya.
Sebagaimana kita tahu pula Ali bin Abu Thalib membelanya sampai akhir
kehidupannya; bagaimana ia memobilisasi kedua putranya, Hasan dan
Husain, untuk menjaga Usman bin Affan dari ulah orang-orang yang
mengepungnya?
Dengan
demikian, Ali bin Abu Thalib merupakan pendukung Usman bin Affan yang
terbaik selama khilafahnya, di samping merupakan pembela terbaiknya
tatkala menghadapi cobaan berat. Ia bersikap tegas dan keras dalam
memberikan nasihat kepadanya di belakang hari, tidak lain dan tidak
bukan, hanyalah karena cinta dan ghirah kepadanya.
Hendaklah kita memahami hal ini dengan baik agar kita juga mengetahui bahwa orang besar seperti Sayyidina Ali bin Abu Thalib patut diteladani oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukti rasa cinta hanyalah berupa "shidqul ittiba"
(mengikuti secara jujur) dan istiqamah (terus menerus) dalam
meneladani. Marilah kita jadikan suri tauladan-nya sebagai teladan yang
terbaik bagi kita dan bukti paling nyata yang mengungkapkan cinta sejati
kepada beliau.
6.Kedermawanan dan Kelebihan Ustman Bin Affan
Semasa
Nabi SAW masih hidup, Utsman pernah dipercaya oleh Nabi untuk menjadi
walikota Madinah, semasa dua kali masa jabatan. Pertama pada perang
Dzatir Riqa dan yang kedua kalinya, saat Nabi SAW sedang melancarkan
perang Ghatfahan.
Utsman bin Affan adalah seorang ahli ekonomi yang terkenal, tetapi jiwa sosial beliau tinggi. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan kekayaanya untuk kepentingan Agama dan Masyarakat umum.
Utsman bin Affan adalah seorang ahli ekonomi yang terkenal, tetapi jiwa sosial beliau tinggi. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan kekayaanya untuk kepentingan Agama dan Masyarakat umum.
Masyarakat
mengenal Ustman sebagai dermawan. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin
oleh Rasul, Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda dan uang tunai
1000 dinar. Artinya, sepertiga dari biaya ekspedisi itu ia tanggung
seorang diri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Ustman juga pernah
memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum
miskin yang menderita di musim kering itu.
Usman
bin Affan r.a. adalah termasuk sahabat yang mendapat ridha dari
Rasulullah SAW dan diberitakan mendapat jaminan untuk masuk syurga. Ia
termasuk orang yang ketiga sesudah Abu Bakar As-Shiddiq r.a. dan Umar
bin Khatab r.a. yang meneruskan roda pemerintahan Islam setelah
Rasulullah SAW wafat.
Kelebihan dari sahabat Rasulullah yang bernama Usman bin Affan ini adalah sifat pemalunya. Rasulullah SAW pernah menyatakan. “Orang
yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar, dan yang paling
teguh dalam memelihara ajaran Allah ialah Umar, dan yang paling bersifat
pemalu ialah Usman." (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Tirmidzi).
Sifat
pemalu yang dimiliki oleh Usman bin Affan itulah yang menjadikan ia
seorang yang dermawan dan penuh belas kasih, sehingga ketika Rasulullah
SAW tengah mempersiapkan pasukan "Al-Usrah", seluruh biaya ditanggung oleh Usman seorang diri, maka Rasulullah SAW menyambutnya dengan ucapan, "Tidak
akan ada sesuatu yang dapat membahayakan Usman dengan apa yang dia
lakukan hari ini. Ya...! Allah, ridhailah Usman, sesungguhnya aku ridha
kepadanya."
Diriwayatkan
tentang kedermawanan Usman bin Affan terhadap kaum Muslimin khususnya
kepada agama Allah adalah seperti di bawah ini.
Ketika
kaum Muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka dihadapkan pada
masalah kesulitan air, dimana di Madinah ada sebuah sumur, tapi sumur
itu milik seorang Yahudi dan sengaja airnya diperdagangkan. Hijrahnya
kaun Muslimin ke Madinah amat menggembirakan bagi orang Yahudi tersebut
karena memberinya kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak dari
hasil penjualan airnya.
Oleh
karena itu Rasulullah SAW sangat mengharapkan ada salah seorang sahabat
yang mampu membeli sumur itu untuk meringankan beban kaum Muhajirin
yang telah menderita karena harta benda mereka ditinggalkan di kota
Mekah. Mengetahui kejadian seperti itu, Usman bin Affan bergegas pergi
ke rumah orang Yahudi tersebut untuk membeli separuh sumur tersebut.
Setelah terjadi tawar menawar maka disepakatilah harga separuh sumur itu
12.000,- dirham dan dengan perjanjian satu hari menjadi hak orang
Yahudi itu, dan keesokan harinya adalah hak Usman bin Affan atas sumur
tersebut.
Pada
giliran hak pakai Usman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air
yang cukup untuk kebutuhan dua hari. Dengan demikian si Yahudi merasa
rugi, karena pada giliran hak pakai dirinya terhadap sumur itu tidak ada
lagi kaum Muslimin yang memebeli air padanya. Orang Yahudi tersebut
mengeluh kepada Usman, dan akhirnya menjual separuhnya kepada Usman
dengan harga 8.000,- dirham. Sumur itu mengalirkan air yang melimpah
bagi kaum Muslimin dengan gratis.
Bentuk
kedermawanan lain Usman bin Affan, pada masa pemerintahan Abu Bakar
As-Shiddiq r.a., kaum Muslimin dilanda paceklik yang dahsyat. Mereka
mendatangi khalifah Abu Bakar seraya berkata, "Wahai.. khalifah Abu
Bakar..! Langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan
tanaman, dan orang-orang meramalkan bakal terjadi bencana besar, maka
apa yang harus kita lakukan..?"
Abu Bakar menjawab, "Pergilah dan bersabarlah... Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian."
Pada
sore harinya ada serombongan kafilah dari Syam yang terdiri dari seribu
unta yang mengangkat gandum, minyak dan kismis. Unta-unta itu kemudian
berhenti di depan rumah Usman, lalu kafilah-kafilah itu menurunkan
muatannya. Tak lama kemudian para pedagang (tengkulak) datang menemui
Usman dengan maksud ingin membeli barang-barang tersebut.
Lalu Usman berkata kepada mereka, "Dengan segala senang hati, berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan kepadaku..?" Mereka menjawab, "Dengan dua kali lipat." Usman menjawab, "Waduh sayang..! Sudah ada penawaran yang lebih tinggi dari kalian."
Para
pedagang itu kemudian menaikkan tawarannya empat sampai lima kali
lipat, tetapi Usman tetap menolak dengan alasan sudah ada penawar yang
akan lebih tinggi lagi dari penawaran para pedagang tersebut.
Akhirnya para pedagang (tengkulak) semuanya menjadi penasaran, lalu berkata lagi kepada Usman, "Hai
Usman, di Madinah ini tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada
yang mendahului kami dalam penawaran, siapa orang yang berani menawar
lebih tinggi dari kami..?" Akhirnya Usman menjawab, "Allah SWT memberikan kepadaku sepuluh kali lipat, apakah kalian mau memberi lebih dari itu..?"
Mereka serempak mejawab, "Tidak..!" Usman berkata lagi, "Aku
menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu
adalah menjadi sedekah untuk para fakir miskin dari kaum Muslimin, aku
ikhlas karena Allah, karena aku mencari ridha-Nya."
Maka
pada sore hari itu juga Usman bin Affan r.a. membagi-bagikan seluruh
makanan yang dibawa oleh kafilah tadi kepada fakir miskin. Mereka
semuanya mendapat bagian yang cukup untuk kebutuhan keluarganya
masing-masing dalam jangka waktu yang lama.
Itulah
sebagian dari kedermawanan Usman bin Affan r.a. Selanjutnya mengenai
kepribadian dalam perjalanan hidupnya, Usman bin Affan adalah seorang
yang bertakwa, selalu bersikap wara', di tengah keheningan malam dia
selalu menkaji Al-Qur'an dan setiap tahunnya dia menunaikan ibadah
haji. Apabila ia berzikir, maka dari matanya mengalir air mata haru.
Ia selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umaDari
Abu Salamah bin Abdirrahman, dia berkata: Utsman melihat orang-orang
dari dalam gedung. Ketika itu dia sedang terkepung. Maka Utsman berkata,
“Aku bersumpah dengan nama Allah, barang siapa ikut menyaksikan
keberadaan Rasulullah ketika berada diatas gunung yang sedang
berguncang, maka beliau menginjak gunung itu dengan kakinya. Setelah itu
Rasulullah bersabda, ‘ tenanglah kamu, wahai gunung! Yang berada di
atasmu sekarang ini adalah seorang Nabi, seorang shiddiq, atau juga
seorang syahid’. Sedang aku sendiri pada waktu bersama beliau.”
Lalu
Utsman ditanyakan dan dicari oleh beberapa orang. Maka dia berkata,
“Aku bersumpah dengan nama Allah, barang siapa ikut bersama-sama
Rasulullah SAW. pada peristiwa Baiat Ridhwan,
yaitu ketika beliau mengutus aku kepada orang-orang musyrik penduduk
Makkah, maka beliau berkata, ‘Ini adalah tanganku dan ini adalah tangan
Utsman’. Lalu beliau menjabat tangannya membaiat untukku.”
Kembali
ada beberapa orang yang bertanya dan mencari Utsman sehingga dia
berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, barangsiapa mendengar
Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang mau memperluas area masjid untuk
kami dengan rumah ini, maka dia akan mendapatkan sebuah rumah di dalam
surga’, maka aku akan membeli rumah itu dengan hartaku sehingga bisa
memperluas area masjid.”
Ada
lagi beberapa orang bertanya kepadanya sehingga Utsman berkata, “Aku
bersumpah dengan nama Allah, barangsiapa ikut hadir bersama-sama
Rasulullah SAW pada waktu pasukan perang mengalami kondisi sulit, maka
beliau bersabda, ‘Barangsiapa mau berinfaq pada hari ini, naka dijamin
infaqnya akan diterima?’ maka aku menyediakan keperluan separuh pasukan
perang dengan harta milikku.”
Beberapa
orang kembali bertanya dan mencari Utsman sehingga dia berkata, “Aku
bersumpah dengan nama Allah, siapa yang menyaksikan rumah yang menjual
airnya untuk ibnu sabil (para perantau), maka aku akan membeli airnya
dengan hartaku kemudian aku gratiskan untuk ibnu sabil.” Lalu masih saja
ada beberapa orang yang bertanya dan mencari Utsman.(HR. Ahmad)
7.Karomah Ustman Bin Affan
Kisah 1
Kisah 1
Dalam
kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang
laki-laki bertamu kepada 'Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu
dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya.
'Utsman berkata kepada laki-laki itu, "Aku melihat ada bekas zina di
matamu." Laki-laki itu bertanya, "Apakah wahyu masih diturunkan sctelah
Rasulullah Saw wafat?" `Utsman menjawab, "Tidak, ini adalah firasat
seorang mukmin." `Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan
menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah
dilakukannya.
![]() |
| Pedang Umar Bin Khotob dan Ustman Bin Affan |
Selanjutnya
Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia
akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang
dilihatnya itu kotor atau bersih. Maqam orang-orang seperti itu
berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi
ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena
mengetahui sebab kotornya, seperti 'Utsman r.a. Ketika ada seorang
laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu
kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang
perempuan.
Artinya,
setiap maksiat itu kotor, dan menimbulkan noda hitam di hati sesuai
kadar kemaksiatannya sehingga membuatnya kotor, sebagaimana dinyatakan
dalam firman Allah, "Sekali-kali tidak demikian, sesungguhnya apa yang
mereka kerjakan itu mengotori hati mereka” (QS Al-Muthaffifin [83]: 14).
Semakin
lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan
ternoda, sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu
cahaya, lalu hati menjadi mati, dan tidak ada jalan lagi untuk bertobat,
seperti dinyatakan dalam firman Nya, “Dan hati mereka telah dikunci
mati, sehingga mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan
berjihad.” (QS Al Taubah [9]: 87)
Sekecil
apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan
itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau
perbuatan-perbuatan lain yang dapat menghilangkannya. Hal tersebut hanya
diketahui oleh orang yang memiliki mata batin yang tajam seperti
'Utsman bin `Affan, sehingga ia bisa mengetahui kotoran hati meskipun
kecil, karena menghayalkan seorang perempuan merupakan dosa yang paling
ringan, `Utsman dapat melihat kotoran hati itu dan mengetahui sebabnya.
Ini adalah maqam paling tinggi di antara maqam-maqam lainnya. Apabila
dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya, maka akan bertambah pula
kekotoran hatinya, dan apabila dosa itu semakin banyak maka akan membuat
hatinya gelap. Orang yang memiliki mata hati akan mampu melihat hal
ini. Apabila kita bertemu dengan orang yang penuh dosa sampai gelap
hatinya, tetapi kita tidak mampu mengetahui hal tersebut, berarti dalam
hati kita masih ada penghalang yang membuat kita tidak mampu melihat hal
tersebut, karena orang yang mata hatinya jernih dan tajam pasti akan
mampu melihat dosa-dosa orang tersebut.
Kisah 2
Ibnu
`Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati 'Utsman r.a.
yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat 'Utsman, lalu
mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah menimpakan penyakit yang
menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat
Al-Barudi dan Ibnu Sakan)
Dalam
riwayat lain dikisahkan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati `Utsman yang
sedang berkhutbah, merebut tongkat dari tangan `Utsman, dan meletakkan
di atas lututnya, lalu mematahkannya. Orang-orang menjerit. Allah lalu
menimpakan penyakit pada lutut Jahjah dan tidak sampai setahun ia
meninggal. (Riwayat Ibnu Sakan dari Falih bin Sulaiman yang saya
kemukakan dalam kitab Hujjatullah `ala al-Alamin)
Kisah 3
Diceritakan
bahwa Abdullah bin Salam mendatangi `Utsman r.a. yang sedang dikurung
dalam tahanan untuk mengucapkan salam kepadanya. 'Utsman bercerita,
"Selamat datang saudaraku. Aku melihat Rasulullah Saw dalam ventilasi
kecil ini. Rasulullah bertanya, "Utsman, apakah mereka mengurungmu?' Aku
menjawab, `Ya.' Lalu beliau memberikan seember air kepadaku dan aku
meminumnya sampai puas. Rasulullah berkata lagi, `Kalau kau mau bebas,
niscaya engkau akan bebas, dan kalau kau mau makan bersama kami mari
ikut kami.' Kemudian aku memilih makan bersama mereka." Pada hari itu
juga, `Utsman terbunuh.
Menurut
Jalaluddin al-Suyuthi, kisah ini adalah kisah masyhur yang diriwayatkan
dalam kitab-kitab hadis dengan beberapa sanad berbeda, termasuk jalur
sanad Harits bin Abi Usamah. Menurut Ibnu Bathis, apa yang dialami
'Utsman adalah mimpi pada saat terjaga sehingga bisa dianggap karamah.
Karena semua orang bisa bermimpi ketika tidur, maka mimpi ketika tidur
tidak termasuk kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai karamah.
Hal ini disepakati oleh orang yang mengingkari karamah para wali.
(Dikutip dalam Tabaqat al-Munawi dari kitab Itsbat al-Karamah karya Ibnu Bathis)





0 komentar:
Posting Komentar